Apa Alasan Egy dan Firza berhasil di kontrak Club Eropa ?

Kenapa Egy Maulana Vikri dan juga Firza Andika berhasil di kontrak oleh club-club Eropa, mungkin banyak dari kita sangat penasaran dengan apa sih yang membuat mereka bisa menjadi seperti sekarang?, apa resepnya?, apa kiat-kiat nya?, bagaimana caranya? dan banyak puluhan pertanyaan lain yang mungkin timbul, khususnya bagi para pengemar Sepakbola dan terlebih bagi para pemain bola muda yang berkeinginan seperti Egy MV dan Firza Andika yang kini menjadi sorotan publik dan media  di tanah air karena karir mereka yg terhitung mentereng di kancah persepakbolaan Nasional.

Kadang memang agak klise, namun kenapa dari jutaan pemain bola yang ada di Indonesia praktis hanya 2 pemain ini yang mendapatkan sodoran kontrak profesional dari club di Eropa yang tidak main-main durasi kontraknya. Bahkan Egy di ganjar 3 tahun kontrak dengan opsi perpanjanjangan 2 tahun, ini di kontrak club Eropa lho.., sedangkan mungkin banyak lagi talenta Indonesia yang tidak terjamah bahkan tidak terlihat oleh pemandu bakat eropa dan tidak mendapatkan kesempatan yang sama seperti mereka berdua. Sunguh terlalu..

Lantas apa yang mendasari melesatnya karir mereka berdua? BakatBola coba akan mengulas dan menganalisa beberapa proses dan penyebab yang membuat mereka lekas naik daun dan sukses seperti sekarang. Setidaknya ada beberapa faktor yang BakatBola ingin uraikan, sehingga diharapkan dapat dijadikan referensi insan Sepakbola, pembina bakat, orang tua maupun para pemain muda Sepakbola Indonesia agar mendapatkan gambaran dan wawasan komersial pemain di industri Sepakbola.

Sepakbola bukan hanya urusan nyaduk bola di atas lapangan hijau, namun banyak diikuti oleh faktor-faktor non teknis lainnya yang juga tidak kalah penting dan krusial bagi sang pemain dalam menunjang perkembangan karirnya. Untuk itu mari kita kupas dan bahas satu persatu bagian penting dari kunci para pemain yang mampu memikat scouts Eropa.

 

1. SKILL / TEKNIK

Mari mulai dari modal awal menjadi pemain potensional, tentu saja kita bicara skill mengolah bola dan dalam hal ini Egy sangat piawai mengolah si kulit bundar, tentunya bakat alami ini memang mengalir di dalam darah Egy Maulana Vikri dan kita tidak perlu membahas hal ini terlalu jauh karena publik sudah paham sejarah dia dari awal.

Sedangkan Firza Andika sendiri memang memiliki bakat alami dengan skill kontrol bola yang baik dan segi passing yg akurat. Skill memanglah hal utama, namun bisa dibilang banyak sekali skill-skill seperti ini di Indonesia, bahkan bisa BakatBola bilang bakat-bakat muda sepakbola Indonesia bertebaran dimana-mana. Hal ini dialami BakatBola saat menyambangi berbagai kompetisi level junior hingga youth di Indonesia seperti Liga Topskor, IJSL, Liga Kompas dan kompetisi tingkat muda lainnya yang memperlihatkan betapa bertabur bakat negeri ini.

Namun perlu digaris bawahi bahwa skill bukan satu satunya modal yang harus dimiliki untuk menjadi pemain mentereng dan sukses.

Apakah Egy dan Firza dikatakan lebih beruntung dari bakat-bakat muda lainnya?sebenarnya bukan hanya sekedar keberuntungan namun karena terdapat hal-hal yang diluar skill yang sangat mempengaruhi karir seseorang bermain Sepakbola, khususnya pada kedua pemain yang kita bahas kali ini.

 

2. GAYA BERMAIN

Pemain sepakbola tanpa karakter yang kuat umumnya akan tidak menonjol, dan skill yang dimiliki akan terlihat seperti skill rata-rata. Peningkatan Skill tanpa dibarengi pembentukan penguatan karakter akan mudah dilupakan oleh audience atau penggemarnya.

Sepakbola bukanlah hanya sekedar menendang bola, jika iya maka semua orang yang main bola bisa terkenal dan sukses seperti Messi. Dimata penggemar dan masyarakat Sepakbola adalah sebuah hiburan, ketika kita bicara hiburan maka tampilan pemain Sepakbola harus menghibur, demikian juga dengan para pemain sepakbola. Memang terkadang gaya bermain atau style ini muncul secara natural dan tidak dibuat-buat, namun gaya permainan ini sangat menentukan karir sang pemain bola.

Untuk di kenal penggemarnya pemain sepakbola butuh karakter dan gaya bermain, seperti layaknya aktor alam sebuah film jika kurang berkarakter maka kita akan sering mudah lupa siapa nama tokoh utama di film tersebut. Contoh pemain Sepakbola dengan karakter yang kuat adalah Cristiano Ronaldo dengan gaya bermain yang lincah, energik saat mengelabui lawan dan tegas dan kuat di bola-bola mati, penggemar sangat menyukai karakter ini karena memang sangat menghibur dan memanjakan mata penggemarnya, tak khayal pemain ini mudah di gandrungi.

Sama halnya dengan Messi yang meliuk-liuk melewati lawan, karakter nya dengan ciri khas dribbling dan finishing plessing yang membuat dia semakin menonjol, jadi Messi pun di gemari bukan karena hanya karena rajin mencetak gol, namin karisma dan karakter saat dia bermain sangat begitu magis, seperti menari-nari bebas tanpa ada yang bisa menyentuhnya. Semua yang ia tampilkan memberi suguhan tontonan nan atraktif sehingga mampu membius jutaan mata siapapun yang melihatnya.

Hal ini sama rumusnya dimanapun, bahkan untuk pemain lokal sekalipun. Contohnya seperti Bambang Pamungkas yang memiliki gaya bermain yang solid dan tegas sehingga dan mudah diingat membuatnya menjadi legenda hidup bahkan sebelum ia pensiun di Sepakbola. Bambang Pamungkas menjadi sosok idola karena karakterya yang begitu solid diluar lapangan maupun didalam lapangan, tak hayal bila BP sangat dicintai penggemarnya.

Lalu bagaimana soal Egy Maulana Vikri, disini Egy Maulana Vikri memiliki gaya bermain yang sangat menarik dan enak di tonton, lihat saja dengan liukannya saat Egy mendrible bola dengan ciri khas gerakan tangannya yang menekuk yang selalu mengayun seiring pergerakan miring tubuh saat melewati lawan sangat khas dan hal ini membuat Egy sangat mudah dikenali meskipun dilihat dari jarak jauh. Jangankan para fans, para juru foto lapangan hijau saja sangat senang menjepret Egy lantaran aksinya sangat fotogenic di depan kamera, tak heran wartawan juga betah mewawancai lantaran enak dilihat juga enak dipajang di halaman utama. Hal inilah yang membuat Egy selalu di ingat boleh para fansnya, tentu saja ini diikuti dengan skill-skill lainnya seperti passing akurat, visi bermain, mahir dalam mencetak gol.

Jadi kepopuleran Egy bukan soal gacor cetak skor, banyak pihak yang menilai “Egy skillnya biasa saja kok dibesar-besarkan” menurut BakatBola ini pendapat yang salah dan keliru. Egy dibesarkan oleh fans maupun media bukan hanya karena Egy mahir mencetak gol. Namun secara tidak sadar publik dan media mengagumi dia karena gaya bermain dia yang kharismatik. Banyak kok contoh pencetak gol lebih banyak dari egy, banyak kok winger muda indonesia yang lebih baik dari Egy, namun Egy berbeda karena memang punya gaya bermain yg menarik untuk di bahas, diobrolkan dan tentunya di ingat. Jadi boomingnya Egy bukanlah lebay, namun karena kerinduan para penggemar bola akan tampilan permainan indah dari anak bangsa yang mampu memberikan kepuasan atas dahaga rasa bangga prestasi sepakbola negeri 1 juta bakat ini.

Kenapa gaya bermain sangat menentukan, silakan perhatikan berapa banyak pemain muda masa lalu yang tampil dengan skor gemilang di Timnas namun kemudian dilupakan? masih ingat nama-nama lawas yg mengisi daftar topskor pada saat dia membela timnas muda, mungkin pada saat membaca ini anda sudah tidak lagi mengingat mereka.

Saya tidak perlu penyebutkan nama-nama pemain tersebut di artikel ini karena tidak etis, silakan pembaca ingat-ingat sendiri. Namun jika saya ingatkan anda Bambang pamungkas, setiap insan sepakbola akan selalu mengingatnya.

Intinya tanpa pondasi karakter yang kuat pemain akan seperti hilang tanpa jejak, meskipun pada saat bermain dia cemerlang dan sering cetak gol.

 

3. EKSPOSE DARI PEMANDU BAKAT EROPA (Scouts)

Dari kebutuhan diatas nomer 3 kali ini tidak kalah pentingnya untuk dapat mencuri perhatian club-club Eropa adalah Ekpose langsung dari pemandu Bakat Luar Eropa, bisa dilihat jelas pada saat ini para pemain Indonesia sebenarnya tidak terlalu terekpose oleh pemandu bakat Eropa. Karena prestasi Sepakbola baru di kelas AFF alias Asia tenggara, kita belum bisa menembus jajaran Elite Asia dan belum dalam kelas 5 besar. Untuk mendapatkan perhatian pemandu bakat Eropa, setidaknya Timnas muda kita harus bisa mengalahkan 5 besar papan atas Asia secara reguler.

Kenapa menarik minat pemandu bakat Eropa begitu sulit? apakah memang serumit itu?, baiklah BakatBola akan jelaskan dengan lebih mendalam.

Bayangkan bila anda adalah seorang pemandu bakat asal benua biru kemudian anda berniat mencari bakat istimewa untuk salah satu club di Eropa, maka dengan logika yang normatif  tidak mungkin tiba-tiba anda datang ke negara Asean tanpa sebab musabab yang jelas kemudian memilih pemain dari negara yang posisi rangking FIFA diatas 150? benarkah?

Kenyataanya jelas lebih pahit, karena mereka akan lebih suka mencari pemain di negara negara Uni Eropa atau kalaupun mereka harus keluar pulau benua biru dan merogoh kocek lebih maka mereka akan masih lebih memilih merekrut pemain-pemain Amerika Latin yang sudah lebih jelas kualitasnya dan yang telah terbukti rajin tampil di Piala dunia baik di level Youth maupun Senior.

Untuk urusan Ekposure dari Eropa Egy dan Firza cukup beruntung pada saat diboyong Indrasafri di turnamen Toulon di Perancis tahun 2017, ini bukan turnamen receh yang sembarangan, perlu diingat Toulon adalah turnamen kelas Tim Nasional dan dipastikan yang bermain adalah bakat-bakat terbaik masing-masing negara peserta, Toulon bukanlah turnamen Eropa level club yang biasa diikuti oleh SSB atau akademi di Indonesia, jika dibandingkan secara exposure hal tersebut akan jauh berbeda.

Di Toulon Turnamen pemandu bakat Eropa banyak berkumpul disini dengan tujuan memantau bakat-bakat kelas wahid yang mana pemain yang di incar adalah pemain berlebel Timnas. Timnas U-19 asuhan Indra Sjafri kala itu belum mampu bicara banyak karena tidak satupun pertandingan yang mereka lakoni mampu diakhiri dengan kemenangan, namun aksi- aksi anak Asuhan Indra Safri ini mampu menyedot perhatian dari para Scouts dari Eropa, betapa tidak Egy sampai di nobatkan menjadi Breakthrough Player yang pernah disabet Zinedine Zidane dan Cristiano Ronaldo sebelumnya.

Begitu pula dengan Firza Andika yang diboyong sang coach fenomenal Indra Sjfari ke Toulon tunamen ini, Firza bermain sangat lugas dan determinan saat itu dan menampikan umpan-umpan terobosan yang memukau, dan setelah even tersebut AFC Tubize pun selalu rajin memantau perkembangannya Firza hingga ia mendapatkan kontraknya tahun ini.

Lalu kenapa hanya Egy dan Firza yang berhasil mencuri perhatian club-club Eropa? Jawabanya adalah di poin 2 diatas, gaya bermain yang berkarakter akan menampikan aura bermain dilapangan, Egy dan Firza memiliki aura bermain yang lebih kuat sehingga mampu menutupi skill rekan-rekan setimnya, tak ubahnya seperti kehadiran ronaldo atau messi di dalam tim,  maka tanpa merendahkan kualitas pemain lainnya maka pada saat bermain secara wawasan commerial pemain lain seperti hanya menjadi pelengkap. Selain 3 poin diatas, masih ada beberapa poin pentingnya faktor non teknis yang akan BakatBola bahas di seri berikutnya

BERSAMBUNG…

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.