Komitmen Sang Penghalau Bola “Joe” Layak Jadi Cerminan

Berbeda dengan para pesepakbola cilik yang tidak banyak dari mereka yang berkenan diposisikan menjadi seorang kiper dengan alasan berbagai hal, namun ini berbanding terbalik dengan Aqil Jazmi Marzuky, pesepakbola cilik kelahiran Bondowoso 13 April 2006 ini justru memantapkan pilihannya sebagai penjaga gawang sejak memasuki sekolah sepakbola beberapa tahun silam.
Di usianya yang terbilang masih sangat dini, naluri menjadi seorang kiper begitu terlihat pada diri bocah cilik ini, seperti yang kerap dirasakan oleh sang pelatih dan rekan-rekan satu timnya yang mengatakan bahwa JOJO biasa ia dipanggil memiliki semangat, keberanian dan percaya diri tinggi yang memang menjadi poin utama seorang kiper.

joe2

Dengan minat yang besar menjadi seorang kiper sejak usia belia seperti saat ini cukup membuatnya terpacu untuk lebih menguasai tehnik yang benar dalam menguasai bola di gawang miliknya baik secara teori maupun praktek, terbukti bocah 9 tahun ini cukup menguasai materi-materi dasar yang diberikan oleh sang pelatih dengan sangat baik.

Tak hanya itu diluar kelebihan dan skill dasar seorang kiper yang dimilikinya dari penuturan sang pelatihpun terucap bahwa hal signifikan yang membuat Jojo layak menjadi seorang kiper ialah karena ia berani ambil keputusan yang tepat dilapangan, dan naluri itu sangat
diperlukan dari diri seorang kiper.

“Performa mainnya bagus, dilatihan dia nurut dan mudah memahami materi yang diberikan, begitu juga saat di pertandingan apa yang diberikan saat latihan dia terapkan dengan sangat  baik, Harapan saya buat Jo semoga dia bisa menjadi kiper profesional nantinya”. Ujar Andrian Xavie, Pelatih U-9 Villa2000

joe3

Selaras dengan penuturan sang pelatih, sang Ibupun memiliki harapan yang tak kalah besarnya kepada anak sematawayangnya ini, kelak suatu saat nanti bisa melihat anaknya melenggang di kaca international diluar sana, sang ibu bertutur ia akan 100% support yang terbaik untuk sang anak, terutama setelah menyaksikan perjuangan anaknya selama ini, di lain hal dirasakannya dengan bermain bola banyak hal positif yang bisa bermanfaat untuk kepentingan diri sang anak. “Disini Jo belajar tanggung jawab dan kerjasama tim, karena kalau di bola harus solid, jadi kalo timnya kompak mainnya bisa akan bagus, seandainya kalahpun kalau timnya solid dia sudah berusaha menampilkan yang terbaik, selama ini dia sudah banyak belajar dari hal itu dan usaha mereka sudah luar biasa” ujar Ana kepada Tim BakatBola.

Kiat diatas menggambarkan betapa pentingnya sebuah komitmen dalam menjalani sepakbola, target kemenanganpun bukan target utama, dengan mendahulukan soliditas tim dan kekompakan membuat proses belajar itulah yang akan menjadi kunci dimasa depan dalam pengembangan skill dan kemampuan anak-anak  di pembinaan Sepakbola Grassroots.

Share & Like Artikel ini :
2237

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan.